dolbybyba:

#rawpotrait #stopmotion

dolbybyba:

#rawpotrait #stopmotion

versusperforma:

VERSUS Jakarta Performance Art #1
performers
Ridwan Rau-rau (Jakarta)
Fj Kunting (jogjakarta)

11 Maret 2012
Taman Ayodya BLOK M
16.00 WIB
“Menggaruk Pantat Buaya”

VERSUS Jakarta Performance Art #1

11 Maret 2012
Taman Ayodya BLOK M
16.00 WIB
“Menggaruk Pantat Buaya”
Jikalau seni(rupa) dan segala produknya(dalam hal ini adalah performance art) adalah permasalahan pertandaan, pemaknaan dan silang sengkarut kelindan pemikiran manusia untuk kemanusiaan ataupun kekosongan tanpa batas makna, maka event performance art “menggaruk pantat buaya” adalah persoalan remeh temeh yang menjadi penting karena sebagai sebuah media seni yang relatif baru performance art telah menyeret pemaknaan tubuh menjadi medium ekspresi(maksudnya sebagai obyek sentral media seni) setelah sebelumnya persoalan tubuh hanya sekedar berada dibalik layar dalam konteks kesenirupaan, beralihnya tubuh menjadi sentral tentu membawa serta kompleksitas baru karena sebelumnya toh setiap gerakan tubuh tidak lantas dimaknai sebagai sebuah peristiwa seni, kemudian menyusul pertanyaan lain semacam sejauh mana sebuah gerak tubuh dimaknai sebagai seni? Mana yang seni dan yang bukan?. Dalam konteks kontemporer mungkin hal ini tidak relevan lagi dipersoalkan namun karena event ini memposisikan diri menghampiri masyarakat yang tentusaja tidak semuanya memiliki dasar wacana yang sama, maka pertanyaan tersebut mau-tidak mau akan selalu muncul dan inilah yang idealnya mulai bisa dijelaskan oleh pelaku-pelaku seni emacam ini. Menjadi unik karena disini dipertemukan dua kubu yang sebelumnya tidak pernah akur yakni semangat kemanusiaan universal dan semangat untuk turun kebawah mendekati masyarakat yang tak lain adalah salah satu jargon realisme sosialis, pencampuradukan berbagai genre seni dan lain sebagainya. Namun tentusaja ini tidak bisa begitusaja dengan mudah disebut sebagai kemenangan kontemporer yang berupaya meleburkan batas-batas yang ada karena toh semuanya berpulang pada masing-masing pelakunya dan pada kenyataannya kesenian tidak pernah bisa benar-benar steril dari berbagai kepentingan, tapi toh tak juga menyurutkan nyali para pawang buaya ini.
…bayangkan kegiatan MENGGARUK PANTAT BUAYA (MPB), secara harfiah meskipun tanpa tendensi seni apapun dapat dikategorikan sebagai sebuah tindakan konyol nan akrobatik, mengingat hal tesebut samasekali tidak wajar, nekat dan mungkin saja heroik karena dibalik tindakan tersebut tersimpan potensi yang membahayakan kesehatan dan bahkan keselamatan kalau tidak dilakukan oleh ahlinya (seperti tulisan yang mengiringi tindakan-tindakan berbahaya di acara TV), kenapa tidak memilih judul lain semacam “menggaruk pantat presiden” atau yang sedang trend seperti “menggaruk pantat cherry belle” yang potensi bahayanya tidak sebesar menggaruk pantat buaya meskipun sama-sama nekat dan konyolnya, mulai dari sini para penggaruk pantat buaya sudah tampak memposisikan diri sebagai oposan dari kecenderungan yang ada dan ini adalah awal yang baik untuk menyampaikan kritik, sebagai event performance art yang didalamnya memuat konsepsi meyikapi dan mungkin mengkritisi realitas sosial di masyarakat akhir-akhir ini maka MPB berpotensi “membahayakan” para pelakunya sendiri karena mungkin saja sikap ataupun kritik yang dikedepankan pelaku performance akan menyinggung pihak-pihak tertentu hingga buaya-buaya yang terusik karena pantatnya digaruk akan balik menggigit dan ini bukan persoalan baru dalam dunia seni apalagi jika kemudian ber vivere pericoloso menyerempet-nyerempet isu sosial-politik misalnya, atau paling tidak apesnya alih-alih dipandang sebagai peristiwa dengan muatan estetis tertentu namun hanya sekedar dilihat sebagai aksi iseng dan hanya dimaknai sebagai tindakan aneh dan tak berguna oleh masyarakat, namun justru pada titik itulah sebenarnya karya seni akan ditantang untuk menunjukkan kualitasnya sekaligus menguji sejauh mana kreativitas dan “keimanan” pelakunya terhadap jalan yang ditempuhnya untuk menyuarakan “sesuatu” yang diyakininya benar melalui jalannya sendiri dan syukur-syukur mengajak orang lain untuk memiliki kesadaran yang sama.

benar sekali tuh kata katanya tepat „„

benar sekali tuh kata katanya tepat „„

(via terisiustherat)

"teramat mudah tuk melakukan nya dan teramat susah pula melupakanya bergerak kedepan dan lupa mundur kebelakang bergerak keatas sulit untuk menundukanya lari membawa piring pecahkan kewajah luka sesaat dan menarilah pulang…."

— @politisi buangsat

"teripang air tawar diujung tanduk"

— bagaikan laut yang ditebar gula sekilo

"meringis bagai kuda nyengir dipinggir kali menunggu digarukan pantatnya…"

— buat kamu yang suka mandi dikali @jakartalegit

@semarak buah tekokak dipinggir kali menunggu hujan

seekor kecebong menyusuri sungai yang tak dinaungi lagi oleh pohon cemara sembari menunggu bermetamorfosis sang kecebong pun bersembunyi di dekat batu yang arusnya deras awan pun mulai kelam hujan pun menampakan niatnya …….

#teror@solo

bom bunuh diri sial indonesia indonesia

#gambreng

garokan maut macan merobek kulit ari dari atas sampai bawah sekujur tubuh